
الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ
الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ
الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ
الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ
الله أَكْبَرُ وَلِله الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُللهِ الَّذِي اَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِنَا فَاَصْبَحْنَابِنِعْمَتِهِ اِخْوَانًا
اَلْحَمْدُللهِ الَّذِي اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلٰى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
أَشْهَدُأَنْﻻَٓإِلٰهَ إِﻻّﷲْاَلْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ
وَأَشهَدُأَنّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَلمَبْعُوْثُ رَحْمَةًلِلْعٰلَمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحٰبِهِ اَجْمَعِيْنَ
فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ ؛
رَبِّ هَبۡ لِی مِنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ ،فَبَشَّرۡنَـٰهُ بِغُلَـٰمٍ حَلِیمࣲ
.اَ̒مابَعدُ؛
فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْفَازَالْمُتَّقُوْنَ
Ma’aasyirol muslimiin wal muslimaat rahimakumulloh.
Pagi ini kita bersyukur kepada Alloh atas segala pemberian dan ketetapan-Nya yang Maha Bijaksana. Tiada Tuhan selain Alloh, tiada esensi apapun yang berhak disembah kecuali adalah Alloh SWT Sang Pencipta dan Pemilik segalanya, Sang Pemelihara dan Sembahan Manusia.
Pada pagi ini dihari ini kita merayakan suatu hari dimana 5000 tahun yang lalu ada seorang hamba Alloh yang dijadikan contoh bagi semesta manusia sebagai tanda kuasa dan kebesaran Alloh. Dialah
Ibrohim ‘alaihissalaam. Seorang hamba Alloh yang dijadikan oleh Alloh Nabi dan menerima ujian hidup untuk kita contoh keteguhannya yaitu selalu taat Alloh bersama keluarganya.
Dalam munajatnya Ibrohim ‘alaihissalam memohon pada Alloh di usia lanjutnya ;
رَبِّ هَبۡ لِی مِنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ
[Surat Ash-Shaffat: 100]
“Ya Alloh Tuhanku, karuniakanlah aku (seorang anak) yang tergolong orang-orang sholeh”
Maka Alloh menjawab doanya ;
فَبَشَّرۡنَـٰهُ بِغُلَـٰمٍ حَلِیمࣲ
[Surat Ash-Shaffat: 101]
“Maka Kami (Alloh) memberinya kabar gembira dengan seorang anak laki-laki yang sangat penyabar”
Maka seorang Ibrohim adalah pribadi yang selalu munajat (berdialog) dengan Alloh dalam setiap saatnya. Kita mencontoh Ibrohim yang selalu berusaha munajat (berdialog) dengan Alloh disetiap kita ingat Alloh sebagaimana perintah-Nya;
,… وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِیتَ وَقُلۡ عَسَىٰۤ أَن یَهۡدِیَنِ رَبِّی لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَـٰذَا رَشَدࣰا
[Surat Al-Kahfi: 24]
“Dan ingatlah tuhanmu ketika kamu lupa dan katakanlah mudah-mudahan Tuhanku memberi petunjuk kepadaku terhadap yang lebih dekat kebenarannya dari yang ini”
Kita mencontoh Nabi Ibrohim sebagaimana Alloh SWT memerintahkan menjadikannya suri tauladan ;
قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ
[Surat Al-Mumtahanah: 4]
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrāhīm dan orang-orang yang bersama dengan dia; “
Jama’ah Sholat Idul Adha Rohimakumulloh.
Nabi Ibrohim menyempurnakan ujian dengan pengorbanan-pengorbanan demi cinta Alloh cinta Akhirat. Bukan demi cinta isinya dunia ; Harta Benda, Keluarga, Tahta, maupun Asmara.
Alloh SWT berfirman ;
۞وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ
[Surat Al-Baqarah: 124]
“Dan (ingatlah), ketika Ibrāhīm diuji Tuhan-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrāhīm menunaikannya. Allah berfirman, Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrāhīm berkata, (Dan saya mohon juga) dari
keturunanku. Allah berfirman, Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”.
Ma’aasyirol muslimiin wal muslimaat rohimakumulloh.
Dan ketika Ibrohim memohon kepada Alloh akan kehadiran seorang anak yang sholeh maka dijawab oleh Alloh dengan lahirnya Isma’il yang kelak akan menjadi pewaris kenabian dan menurunkan Nabi Akhir zaman Muhammad SAW.
Alloh menjaga Ibrohim agar tidak cinta dunia dengan pilihan-pilihan sikap menjaga diri dari terjatuh kedalam kecintaan duniawi. Maka ketika Isma’il telah beranjak dewasa Alloh Maha Tahu bahwa didalam dadanya ada benih kecintaan terhadap Isma’il melebihi cintanya kepada Alloh dan Akhirat. Maka Alloh membina Ibrohim selayaknya Guru membina hati muridnya;
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ
مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
[Surat Ash-Shaffat: 102]
“Maka tatkala anak itu (Isma’il) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrāhīm, Ibrāhīm berkata, Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab, Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Dalam riwayat Ibnu Abbas, (dalam tafsir Qurthubi dan Baghowi) beliau berkata,”Ketika keduanya akan melaksanakan perintah Alloh SWT dengan tulus dan tabah sang anak (Isma’il) berkata : ” Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak. Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar
darahku tidak mengotori baju engkau maka akan berkurang pahalaku, dan (jika nanti) Bunda melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih. Dan tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu dileherku agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu amat dahsyat. Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali maka sampaikanlah salam (kasih)ku kepada Bunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka lakukanlah”. Dengan penuh haru Ibrohim berkata, “Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Alloh SWT”.
Kita contoh Ibrohim yang selalu taat.
Begitulah Ibrohim sebagai sosok manusia teladan dalam hidupnya didunia namun hatinya dipenuhi cinta Alloh, cinta Akhirat, cinta Surga.
[Pertama] : anak dan harta adalah dunia yang dijadikan sebagai fitnah bagi manusia maka waspadailah.
إِنَّمَاۤ أَمۡوَ ٰلُكُمۡ وَأَوۡلَـٰدُكُمۡ فِتۡنَةࣱۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥۤ أَجۡرٌ عَظِیمࣱ
[Surat At-Taghabun: 15]
“Sungguh hanya hartamu dan anak-anakmu adalah sebagai ujian, dan disisi Alloh-lah pahala yang besar”
[Kedua] : cinta Alloh berarti mengorbankan cinta kepada selain Alloh. Maka tidak bisa cinta Alloh sekaligus cinta isinya dunia. Nabi Ibrohim berkorban dengan menyembelih selain Alloh didalam dadanya yakni cinta harta, cinta keluarga, dan cinta cinta dunia yang lain. Sehingga dadanya hanya dipenuhi kecintaan kepada Alloh dan akhirat. Maka kita sembelih nafsu cinta dunia yang ada didalam dada kita demi surga demi akhirat yang selamanya.
[Ketiga] : utamakan musyawaroh dalam mengambil keputusan. Sebagaimana Nabi Ibrohim bermusyawaroh dengan putranya Isma’il terhadap perintah penyembelihan dirinya yang datangnya dari Alloh. Maka dengan musyawaroh Alloh memberikan berkah dalam keputusan yang diambil.
[Keempat] utamakan menjalankan perintah yang datangnya dari Alloh meskipun tidak masuk diakal. Logika Alloh terkadang tidak selalu berselaras dengan logika manusia. Maka utamakan tawadhu’ dari pikiran kita. Tawakkal pada Alloh sambil terus berusaha.
Ma’aasyirol Muslimiin Rohimakumulloh.
Momen idul adha ini kita jadikan sebagai tonggak transformasi diri kita dari kemelekatan terhadap dunia untuk belajar cinta Alloh cinta Akhirat. Alloh memberikan cara-cara yang
praktis seperti jalan yang pernah dilalui Nabi Ibrohim, Nabi Isma’il juga para Nabi dan Rosul selainnya. Ada pengorbanan-pengorbanan yang harus dilalui untuk meraih cinta Alloh, cinta Akhirat. Kita berusaha berkorban untuk meraihnya.
Demikian khutbah idul qurban yang singkat ini mudah-mudahan dapat dijadikan sebagai penginat bagi kita semua. Berqurban dunia demi akhirat yang selamanya.
باَرَكَُﷲُلِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُراٰنِ الْعَظِيْمِ،وَنَفَعَنِيْ وَاِيّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اﻻٰيَاتِ وَذِكْرِالْحَكِيْمِ،وَتَقَبَّلَﷲُمِنَّاوَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ
وَاَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَاوَاَسْتَغْفِرُﷲَلِىْ وَلَكُمْ اِنّهُ هُوَالغَفُوْرُالرّحِيْمُ
Khutbah ke 2
الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ
الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ
الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ
الله أَكْبَرُ وَلِله الْحَمْدُ
اَلحَمدُِلله نَحمَدُهُ وَنَستَعِينُهُ وَنَستَغفِرُهُ وَنَعُوذُبِالله مِنْ شُرُوْرِاَنفُسِنَاوَمِنْ سَيِّأتِ اَعمَالِنَامَنْ يَهدِهِﷲُفَلاَ مُضِ̒لَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
اَشهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّاﷲُوَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ
اَللّهمَّ صَلِّ وَسَلِّم عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمّدٍوَاٰلِه وَصَحبِهِ اَجمَعِينَ
اَمَّابَعدُهُ؛
فَيَاعِبَادَﷲِاُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقوٰىﷲِفَقَدْفَازَالمُتَّقُوْنَ.
وَقَالَ الله تعالى ؛ اعوذبالله من الشيطان الرجيم ؛
?یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ اِلَّاوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اِعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍبَدَأَفِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنّٰى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالٰى :
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤئِكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیْماً
اَللهُمّ اغْفِرْلِلمُسلِمِيْنَ وَالٌمُسْلِماتِ وَالمُؤمِنِينَ وَالمُؤمِنَاتِ اَلْاَحْيَاءِمِنْهُمْ وَالْاَموَاتِ
اللّهُمَّ اغْفِرْلَنَاوَارْحَمْنَاوَاهْدِنَااِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ
اَللّٰهُمَّ اَعِزّاﻻِسْلاَمَ واَلْمُسلِمِينَ وَاَذِلَّ الشِّركَ وَالمُشرِكِينَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْاَعْدَاءَالدِّيْنَ
رَبَّنَااٰتِنَافِي الدُّنْيَاحَسَنَةًوَفِي الْاٰخِرَةِحَسَةًوَقِنَاعَذَابَ النَّارِ
وَالحَمدُلله رَبِّ الْعَالَمِينَ
عِبَادَِﷲاِنَّﷲَيَأمُرُنَا بِالعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِي القُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ
الفَحْشَاءِوَالمًنْكَرِوَلَذِكرُﷲِاَكبَرُ
Ditulis oleh ;
Ust. Ahmad Anam, CHt.
Ketua Lembaga Dakwah PCNU Ngawi
