فَمَن فَرَضَ فِیهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِی ٱلۡحَجِّۗ
اَلحَمدُللهِ الَّذي فَرَضَ عَلَيْنَا الْحَجَّ ،
أَشْهَدُأَنْﻻَٓإِلٰهَ إِﻻّﷲُاَلْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ
وَأَشهَدُأَنَّ مُحَمَّدًاأَلمَبْعُوْثُ رَحْمَةًلِلْعٰلَمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحٰبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
اَمَّابَعْدُ ؛
فَيَاعِبَادَﷲِاُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوٰىﷲِفَقَدْفَازَالْمُتَّقُوْنَ.
وَقَدْقَالَﷲُ تَعَالٰى فِي الْقُراٰنِ الْكَرِيْمِ؛
بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّ أَوَّلَ بَیۡتࣲ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِی بِبَكَّةَ مُبَارَكࣰا وَهُدࣰى لِّلۡعَـٰلَمِینَ
Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh.
Kita berusaha terus menerus belajar Taqwa. Mudah-mudahan kita semua dibimbing oleh Alloh untuk selalu belajar taqwa.
Hadirin,.
Nabi bersabda :
اَلْحَجٌّ عَرَفَةَ
“Haji adalah Arofah”
Selengkapnya adalah ;
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ قَالَ شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ نَاسٌ فَسَأَلُوهُ عَنْ الْحَجِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ عَرَفَةَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ
Artinya :
“Diriwayatkan dari ‘Abdur Rahman bin Ya’mar, ia berkata; ‘Saya menyaksikan Rasulullah SAW
didatangi orang-orang, kemudian mereka bertanya perihal haji, lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Inti Haji adalah wukuf di Arafah, siapa pun yang mendapatkan malam Arafah sebelum terbit fajar dari malam jam’ in (waktu sore pada hari Arafah) maka hajinya telah sempurna’.” (HR An-Nasa’i).
Haji adalah diam di Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Diam adalah Wuquf. Berusaha untuk mendiamkan jasad fisik ditempat yang ditentukan yaitu di Arofah pada waktu tertentu yaitu dari waktu Dzuhur hingga Maghrib. Apa yang dilakukan adalah hening dalam diri “INGAT ALLOH”, sebanyak-banyaknya ingat.
Makanya kita belajar untuk kembali kehati dalam setiap kita ingat untuk wuquf. Didalam hati terdapat cahaya ketuhanan yang kita ingin kembali kepada ingat Alloh.
“Hati adalah baitulloh”. Kita berusaha terus sebanyak-banyaknya “DIAM DIHATI INGAT ALLOH”. Ingat Surga, ingat Akhirat, ingat Hari Akhir dalam keseharian wuquf kita dihati.
Berkata Imam Abdul Wahhab As Sya’rani dalam kitabnya Al Fathul Mubin;
الكعبة بيت الله في الارض و كذالك القلبُ علي الحقيقة بيتُ الله في الانسان
“Ka’bah adalah Rumah Allah di muka bumi, Demikian pula halnya ‘Hati’ pada hakekatnya adalah rumah Allah dalam diri manusia”.
Kita berusaha kembali kehati sesering yang bisa kita lakukan.
Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh.
عَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا
بِرُّهُ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ وفي رواية لأحمد والبيهقي إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
“Dari sahabat Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga.” Lalu sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa (tanda) mabrurnya?” Rasulullah SAW menjawab, “Memberikan makan kepada orang lain dan melontarkan ucapan yang baik.” (HR Ahmad, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi).
“Haji yang mabrur tiada baginya balasan kecuali Surga”,
Kita belajar praktek haji setiap saat dengan selalu ingat firman Alloh ;
ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرࣱ مَّعۡلُومَـٰتࣱۚ فَمَن فَرَضَ فِیهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِی ٱلۡحَجِّۗ وَمَا تَفۡعَلُوا۟ مِنۡ خَیۡرࣲ یَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَیۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ یَـٰۤأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِ
[Surat Al-Baqarah: 197]
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, maka barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rofatṡ, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa , dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”.
Maka siapa saja yang menjalankan ibadah haji, haram ; Rofats yaitu porno, cabul, mesum, dan sebutan yang semakna dengan itu. Didalam haji dilarang sepulang haji tetap berjuang melawan dorongan-dorongan nafsu yang mengajak kepada perzinaan, pacaran, mendekati zina, selingkuh yang semula adalah bertukar nomor WA kemudian berlanjut pertemuan untuk
mendekati zina yang keji dan kotor. Kita selalu waspada dengan selalu ingat larangan haji pertama yaitu ; Rofats atau Cabul.
Larangan kedua adalah Fasiq atau durhaka atau perbuatan maksiat. Kita berkomitmen untuk meninggalkan dalam keseharian hidup kita hingga tutup usia, berbuat fasiq. Begitu dorongan untuk berbuat maksiat muncul maka kita selalu ingat larangan haji. Kita berlakukan larangan ini dalam keseharian hidup kita. Kita tinggalkan fasiq selamanya melalui perjuangan lahir dan batin atau riyadhoh qolby.
Larangan haji ketiga adalah Debat. Disaat haji haram berdebat perihal apapun dan berusaha meninggalkan perbuatan-perbuatan yang menjadi penyebab perdebatan. Misal; jamaah mendebat sesama temannya atau mendebat imam pembimbing hajinya perihal amaliyah-amaliyah ibadah haji. Kita wajib yakin bahwa
debat ataupun perdebatan tidak membawa kemaslahatan apapun. Namun kita berusaha sedikit bicara banyak beramal.
Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh.
“Haji yang mabrur tiada baginya balasan kecuali Surga”,
Kita jaga kemabruran haji kita hingga tutup usia. Kita jadikan ibadah haji sebagai puncak kesempurnaan sebagai seorang muslim dengan selalu ingat peng-Alam-an yang telah dilalui dalam ritual haji. Kita bawa esensi ilmunya kedalam hidup kita selama-lamanya.
Dengan selesainya beribadah haji maka; Syahadatnya bahwa kesaksian tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh dan Muhammad sebagai Rosul-Nya
semakin mantap menghiasi perilaku hidup dalam keseharian baik dalam perihal ibadah dan muamalah.
Dengan sempurnanya beribadah haji maka; sholatnya menjadi media munajat dengan Alloh ; semakin meningkat dari sholat mujahadah menuju sholat musyahadah meningkat lagi menjadi sholat munajat.
Dengan menyempurnakan haji ikhlas karena Alloh maka zakat dan puasanya menjadi dua hal yang tidak terpisahkan untuk selalu berusaha dikerjakan baik puasa wajib maupun sunnah, berkelindan dengan menjadi pribadi yang dermawan dengan berzakat, berinfak dan bersedekah.
Momen berhaji adalah momen yang
sangat tepat untuk mengintegrasikan rukun islam kedua ketiga keempat dan kelima yang dijiwai dengan rukun pertama yakni persaksian menuju ketundukan bahwa hidupku matiku ibadahku adalah untuk Alloh dan tunduk kepada syariat Rosulullah.
Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh.
Kesempurnaan haji yang sangat penting adalah ;
وَأَتِمُّوا۟ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ
[Surat Al-Baqarah: 196]
“Dan sempurnakanlah haji dan umroh ikhlas karena Alloh”
Selaras dengan firman-Nya ;
وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَیۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَیۡهِ سَبِیلࣰاۚ
[Surat Ali ‘Imran: 97]
“Dan wajib bagi manusia berhaji ke baitulloh ikhlas karena Alloh bagi siapa saja yang mampu menuju kesana”
Kita belajar ikhlas karena Alloh dalam berhaji yaitu memurnikan peribadatan haji hanya karena memenuhi panggilan Alloh bukan karena manusia, bukan karena gelar dan panggilan maupun derajat didunia. Kita berhaji dalam keseharian yaitu segala amal didalam hidup kita maka kita tujukan ikhlas karena Alloh; bukan karena sanjungan manusia, balasan manusia, nama baik ditengah masyarakat, maupun status sosial, dll.
Kita berhaji dalam keseharian hidup kita selama didunia.
باَرَكَُﷲُلِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُراٰنِ الْعَظِيْمِ،وَنَفَعَنِيْ وَاِيّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اﻻٰيَاتِ وَذِكْرِالْحَكِيْمِ،وَتَقَبَّلَﷲُمِنَّاوَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ
وَاَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَاوَاَسْتَغْفِرُﷲَلِىْ وَلَكُمْ اِنّهُ هُوَالغَفُوْرُالرّحِيْمُ
Khutbah ke 2 :
اَلحَمدُِلله نَحمَدُهُ وَنَستَعِينُهُ وَنَستَغفِرُهُ وَنَعُوذُبِالله مِنْ شُرُوْرِاَنفُسِنَاوَمِنْ سَيِّأتِ اَعمَالِنَامَنْ يَهدِهِﷲُفَلاَ مُضِ̒لَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
اَشهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّاﷲُوَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ
اَللّهمَّ صَلِّ وَسَلِّم عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمّدٍوَاٰلِه وَصَحبِهِ اَجمَعِينَ
اَمَّابَعدُهُ؛
فَيَاعِبَادَﷲِاُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقوٰىﷲِفَقَدْفَازَالمُتَّقُوْنَ.
وَقَالَ الله تعالى ؛ اعوذبالله من الشيطان الرجيم ؛
?یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ اِلَّاوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اِعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍبَدَأَفِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنّٰى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالٰى :
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤئِكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیْماً
اَللهُمّ اغْفِرْلِلمُسلِمِيْنَ وَالٌمُسْلِماتِ وَالمُؤمِنِينَ وَالمُؤمِنَاتِ اَلْاَحْيَاءِمِنْهُمْ وَالْاَموَاتِ
اللّهُمَّ اغْفِرْلَنَاوَارْحَمْنَاوَاهْدِنَااِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ
اَللّٰهُمَّ اَعِزّاﻻِسْلاَمَ واَلْمُسلِمِينَ وَاَذِلَّ الشِّركَ وَالمُشرِكِينَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْاَعْدَاءَالدِّيْنَ
رَبَّنَااٰتِنَافِي الدُّنْيَاحَسَنَةًوَفِي الْاٰخِرَةِحَسَةًوَقِنَاعَذَابَ النَّارِ
وَالحَمدُلله رَبِّ الْعَالَمِينَ
عِبَادَِﷲاِنَّﷲَيَأمُرُنَا بِالعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِي القُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ
الفَحْشَاءِوَالمًنْكَرِوَلَذِكرُﷲِاَكبَرُ
Ditulis oleh ;
Ust. Ahmad Anam, CHt.
Ketua Lembaga Dakwah PCNU Ngawi
