
Ngawi — Musyawarah Pimpinan Cabang (Muspimcab) IV Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Ngawi sukses diselenggarakan pada Sabtu–Minggu, 25–26 April 2026, di Ngawi Agro Techno Park Ngrambe. Forum strategis tahunan ini mengusung tema “Era Baru PMII Ngawi: Rekonstruksi Haluan Pergerakan” sebagai upaya kolektif dalam meneguhkan kembali arah gerak organisasi di tengah dinamika zaman.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko, Ketua DPRD Kabupaten Ngawi Yuwono Kartiko, Kepala Dinas Kesbangpol, perwakilan Kementerian Agama Ngawi, serta unsur badan otonom Nahdlatul Ulama (Banom NU).
Muspimcab IV menjadi momentum penting bagi PC PMII Ngawi dalam melakukan evaluasi, konsolidasi, sekaligus merumuskan proyeksi gerakan ke depan. Tidak sekadar forum musyawarah formal, kegiatan ini juga menjadi ruang reflektif untuk membaca tantangan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan yang dihadapi generasi muda, khususnya kader PMII di Kabupaten Ngawi.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko, menegaskan bahwa PMII harus terus mengambil peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan zaman.
“PMII Kabupaten Ngawi harus berkomitmen mencetak generasi muda yang tidak hanya berkarakter, tetapi juga memiliki daya saing dalam membangun karier profesional,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa dunia kerja saat ini menuntut kesiapan yang tidak hanya berbasis ijazah, tetapi juga keterampilan, inovasi, dan kemampuan membaca peluang. Oleh karena itu, PMII dinilai memiliki peran penting sebagai ruang kaderisasi yang mendorong mahasiswa untuk berkembang menjadi tenaga profesional, wirausahawan, akademisi, maupun pemimpin masa depan.

Sementara itu, Ketua PC PMII Ngawi dalam sambutannya menyoroti pentingnya arah pembangunan daerah yang berpijak pada keseimbangan antara industrialisasi dan identitas agraria. Menurutnya, wajah Ngawi ke depan harus dibangun melalui industrialisasi yang terukur, berkeadilan, dan tetap berakar pada karakter daerah.
“industrialiasi merupakan keniscayaan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja. Namun, hal itu tidak boleh mengabaikan akar sosial dan kultural masyarakat Ngawi sebagai wilayah agraria,” ungkapnya.
Lebih lanjut, PMII mendorong penguatan sektor pertanian melalui inovasi, teknologi, dan pengembangan agroindustri. Generasi muda diharapkan mampu melihat pertanian sebagai sektor strategis yang melahirkan berbagai profesi modern, seperti agripreneur, peneliti pangan, hingga pelaku ekonomi kreatif berbasis desa.
Melalui Muspimcab IV ini, PC PMII Ngawi berkomitmen melahirkan rumusan gerakan yang lebih terarah, dengan fokus pada penguatan kualitas kader, pengembangan keilmuan, serta orientasi gerakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, PMII memandang masa depan Ngawi tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan industri, tetapi juga pada penguatan sumber daya manusia dan pelestarian identitas agraria. Visi tersebut menjadi gambaran wajah Ngawi ke depan, maju industrinya, kuat sumber daya manusianya, dan tetap kokoh akar agrarisnya.
